"Ling Mei, apa sebenarnya yang kau lihat saat kita terjebak di dalam formasi ilusi?" tanya Xiao Ling dengan suara pelan, khawatir ucapannya akan membuat Ling Mei marah.

Langkah Ling Mei terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Xiao Ling dengan sorot mata tajam dan sedingin es. "Bukan urusanmu," jawabnya datar.

Ling Mei melangkah di depan dengan penuh fokus, tetapi ada sesuatu yang mengganggunya. "Aku harus segera pergi setelah semua ini selesai…" pikirnya.

Ia tahu jika terus berada di dekat Xiao Ling, perasaannya akan semakin sulit dikendalikan. Ia tidak mengerti mengapa pemuda itu terasa begitu familiar atau mengapa hatinya selalu gelisah setiap kali bersamanya.

Namun, satu hal yang pasti, ia tidak ingin terus merasa seperti ini.

"Sekembalinya nanti, aku harus segera pergi ke sekte bersama Li Wei dan saudara seperguruanku. Dengan begitu, aku bisa menghindarinya," gumamnya sambil mengepalkan tangan.

Xiao Ling, yang berjalan di belakangnya, menyadari perubahan sikapnya. Tatapan Ling Mei semakin dingin, langkahnya lebih kaku. Namun, ia tetap diam, hanya mengamati dalam keheningan.

Tiba-tiba, Ling Mei berbicara, suaranya terdengar datar. "Kenapa sekarang jauh lebih terang dibandingkan sebelumnya?"

Lynx menoleh ke sekeliling sebelum menjawab, meskipun masih ada kabut hitam kehijauan yang menggantung, keadaan di dunia kecil ini sekarang lebih terang dibandingkan ketika mereka pertama kali masuk.

"Aku tidak tahu pasti," jawab Lynx santai. "Tapi menurutku, hukum yang ada di dunia kecil ini mungkin berbeda dari dunia luar. Sepertinya di sini juga ada konsep siang dan malam, meskipun tanpa matahari."

Ling Mei mengernyit. "Siang dan malam? Tapi tidak ada sumber cahaya di langit."

Lynx mengangkat bahu. "Mungkin dunia kecil ini memiliki caranya sendiri dalam mengatur siklusnya. Bisa saja cahaya ini berasal dari energi yang tersebar di udara atau dari suatu mekanisme yang belum kita pahami."

Mereka terdiam lagi, dan melanjutkan perjalanan tanpa mengetahui kemana harus melangkah.

Saat mereka melanjutkan perjalanan mencari area yang dikenali Ling Mei, Lynx bertanya lagi. "Ling Mei, selama kamu bersama Yin Yue, apakah tidak ada informasi yang kamu dapatkan mengenai tujuan dia mencari fragment senjata iblis?" tanya Xiao Ling, berusaha memecah kebekuan di antara mereka. Dia merasa tidak nyaman dengan sikap dingin Ling Mei yang tampak tidak bersahabat.

Ling Mei mendesah, lalu menjawab dengan singkat, "Dia hanya menyebutkan bahwa artefak ini memiliki tiga lapisan. Selain itu, waktu di sini lebih cepat daripada dunia kita."

Xiao Ling terdiam, pikirannya berputar cepat. Berarti masih ada kesempatan untuk menyelamatkan penduduk. Awalnya, rasa putus asa menyelimuti hatinya setelah semalaman mereka terjebak di tempat ini, mengira banyaknya korban yang mungkin sudah jatuh. Namun kini, semangatnya bangkit kembali. "Kita harus segera bertindak," ujarnya, tekad bersinar di matanya. "Setiap detik berharga."

Xiao Ling mulai merasa ragu dengan perjalanan mereka. Berjalan tanpa arah tujuan hanya akan membuang waktu.

"Ling Mei, apakah ada ciri khas dari tempat itu yang kau ingat? Sesuatu yang bisa membantu kita mengenalinya atau setidaknya menuntun kita ke arahnya?"

Langkah Ling Mei terhenti. Ia berpaling, matanya menyipit seolah menggali ingatan yang nyaris terkubur. "Di dekat tempat itu ada sebuah batu besar," katanya pelan. "Di permukaannya terukir formasi yang dipenuhi simbol-simbol kuno, berpendar redup seolah mengandung kekuatan yang belum sepenuhnya terbangun."

Ia mengerutkan kening, lalu perlahan melanjutkan, "Aku ingat lebih jauh. Di sekitar batu itu, tumbuh bunga-bunga ungu tua dengan kelopak berbentuk spiral. Tidak ada di tempat lain, hanya di sana. Ketika angin bertiup, bunga-bunga itu mengeluarkan suara seperti lonceng kecil, nadanya aneh dan bergetar di udara."

Xiao Ling mengangguk pelan sebelum kembali melangkah. Namun, tanpa menarik perhatian, ia sengaja memperlambat langkahnya, memastikan dirinya tetap berada di belakang Ling Mei.

Ling Mei tetap berjalan lurus, sikapnya dingin, seolah tidak peduli pada Xiao Ling yang selalu tertinggal beberapa langkah di belakangnya.

Begitu yakin Ling Mei tidak memperhatikan, Xiao Ling melesat dalam sekejap. Gerakannya secepat bayangan, nyaris tanpa suara, menyatu dengan embusan angin.

Dengan kecepatan penuh, ia menyusuri jalur lain, mengedarkan persepsi spiritualnya ke seluruh area, mencari ciri-ciri yang disebutkan Ling Mei. Batu besar dengan formasi kuno yang berpendar. Bunga ungu tua yang bergemerincing seperti lonceng giok saat tertiup angin.

Saat mencapai batas pencariannya, ia segera kembali. Tanpa suara, tanpa jejak, ia menyelaraskan langkahnya dengan ritme perjalanan Ling Mei. Setiap kali kembali, posisinya selalu tetap di belakangnya, seakan tidak pernah menghilang.

Ling Mei tetap berjalan tanpa menoleh, membiarkan perjalanan mereka terus berlanjut dalam keheningan.

"Ling Mei, kurasa arah jalan kita salah," kata Xiao Ling sambil berusaha mencari alasan yang tepat. Saat pencarian terakhirnya, Lynx berhasil menemukan lokasi pintu yang menghubungkan lapisan ini dengan lapisan berikutnya.

Ling Mei berhenti, dia berbalik dan menatap Xiao Ling dengan tatapan penuh tanya, seolah mempertanyakan dari mana dia tahu.

"Aku mengenali tempat ini, karena sebelumnya aku terlempar ke dekat sini," kata Xiao Ling, memulai penjelasannya.

"Kalau dari sini, arah formasi yang menjebak kita ada di sebelah sana," lanjutnya sambil menunjukkan arah dengan tangan. "Aku sudah ke sana saat mencarimu. Namun, tidak ada tanda-tanda, jadi aku mencari ke tempat lain dan akhirnya menemukanmu di sini."

Xiao Ling menunjuk lagi ke arah lain. "Jika melihat arah perjalanan kita sebelumnya, seharusnya di sanalah letak pintu formasi."

Ling Mei terdiam, tetapi tanpa sepatah kata pun, dia berlari menuju arah yang ditunjuk Xiao Ling. Segera, Xiao Ling menyusulnya. Mereka berlari cepat, bahkan Ling Mei sengaja mempercepat langkahnya untuk menguji kemampuan Xiao Ling. Namun, dia terkejut karena posisi Xiao Ling selalu tidak jauh darinya, seolah dia memiliki kemampuan untuk tetap mengikutinya dalam setiap langkah.

"Bagaimana mungkin dia bisa mengejarku? Apakah dia benar-benar seorang yang memiliki ranah hanya Forging Qi tingkat satu?" batin Ling Mei, heran.

Ling Mei meningkatkan lagi kecepatannya. Bahkan Master Foundation pun belum tentu bisa mengejarnya. Namun, saat melirik ke belakang, ia terkejut melihat Xiao Ling yang berlari dengan santai, seolah tidak terpengaruh oleh kecepatan yang ia tingkatkan.

"Benar-benar mencurigakan," pikirnya. "Jangan-jangan dia memiliki maksud tersembunyi mendekati Li Wei dan walikota. Mungkin dia juga berniat untuk mendapatkan fragment tersebut." Kecurigaan itu membuatnya lebih waspada, dan langkahnya semakin berhati-hati.

Andai Xiao Ling mengetahui pemikiran Ling Mei, pasti dia sudah akan muntah darah karena kesal.

Akhirnya, berkat kecepatan yang digunakan dan arah berlari yang tepat, Ling Mei mulai mengenali jalur-jalur yang dilewati. Di tempat itu, dia sempat bertarung melawan binatang iblis yang berusaha menyerangnya dan Yin Yue.

Ling Mei semakin mempercepat larinya menuju pintu formasi. Dia tidak akan membiarkan apapun menghalangi langkahnya. Setiap binatang iblis menghalangi, dia akan membasminya. Namun tanpa diketahui, Lynx diam-diam membantunya dengan sinar laser tak kasat mata.

Setelah berlari dengan cepat, akhirnya Ling Mei dan Xiao Ling tiba di depan formasi yang terletak di atas batu besar. Formasi itu aura magisnya terasa kuat. Ling Mei menghampiri formasi dan mulai mengaktifkannya agar mereka bisa segera pindah ke lokasi berikutnya.

"Biarkan aku mengatur ini," kata Ling Mei. Dengan konsentrasi penuh, dia memfokuskan energi Qi-nya pada formasi. Energi di sekitarnya bergetar, dan suara halus terdengar saat formasi mulai berfungsi.

Dalam sekejap, mereka merasakan tarikan kuat yang membuatnya terhisap ke dalam formasi.

Tidak lama, Ling Mei dan Xiao Ling menemukan diri mereka di tempat yang berbeda. Mereka berada di lapisan kedua artefak dunia sembunyi. Suasana di sini mirip dengan lapisan pertama, tetapi energi iblis terasa lebih pekat, menyelimuti mereka dengan aura yang menekan.

"Kita berada dilapisan kedua sekarang." Kata Lynx, mengamati sekeliling dengan hati-hati.

"Benar, kita di lapisan kedua," jawab Ling Mei, tetap waspada. "Energi iblis di sini jauh lebih kuat. Kita harus berhati-hati dan cepat menemukan pintu berikutnya."

